Jurnal Matematika - Persepsi Guru-Guru di Korea Tentang Kesuksesan Siswa di Bidang Matematika
PERSEPSI GURU-GURU DI KOREA TENTANG KESUKSESAN SISWA
DI BIDANG MATEMATIKA : Konsep vs Prosedur
Insook Chung
Saint Mary’s College, Notre Dame, IN
Abstrak
: Artikel ini menyelidiki
tentang keyakinan guru-guru kelas di Korea tentang pendidikan matematika di
sekolah dasar. Persepsi mereka tentang faktor penyebab siswa-siswa di Korea
meraih nilai yang tinggi di studi perbandingan internasional pada bidang
matematika. Guru-guru sekolah dasar telah di survei menggunakan angket dan 141
guru telah mengisi angket. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis
deskriptiv. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas guru kelas setuju bahwa penerapan
masalah nyata, kemampuan memproses, penggunaan perintah nyata, dan kemampuan
konseptual adalah hal yang sangat penting dalam mengajarkan matematika pada
anak-anak. Sebagian besar guru yang berpartisipasi dalam penelitian ini sadar bahwa
siswa di Korea menduduki persentil puncak di studi perbandingan internasional
matematika. Para guru mengatakan bahwa murid-murid di Korea masih fokus pada praktek
dan kemampuan komputasi, Les privat setelah jam sekolah selesai, harapan
pendidikan yang tinggi dari orang tua dan keterlibatan aktif orang tua dalam
pendidikan anak menghasilkan nilai yang tinggi dalam matematika.
Pendahuluan
Berdasarkan
berbagai studi perbandingan internasional, siswa sekolah di Korea menunjukkan
nilai yang sangat tinggi di mata pelajaran matematika. Terutama pada tahun
2003, siswa kelas 8 di Korea menduduki peringkat 2 dalam mata pelajaran
matematika diantara 46 negara yang berpartisipasi di TIMSS dan pencapaian nilai
mereka terus meningkat. Hasil ini mendorong para pendidik di Korea, khususnya
guru matematika untuk melakukan refleksi mengenai kekuatan dan kelemahan dalam
pembelajaran matematika di Korea, termasuk kurikulum nasional dan metode
instruksional. Seluruh aspek pendidikan di analisis dalam rangka mempertahankan
dan juga untuk meningkatkan kemampuan pencapaian matematika siswa.
Pada
tahun 1995 TIMSS melaporkan adanya indikasi permasalahan yang serius dalam
pendidikan matematika di Korea. Terlepas dari kesuksesan pencapaian siswa,
siswa tidak memiliki keyakinan positif terhadap matematika. Hal ini dikuatkan
oleh laporan PISA pada tahun 2003, yang melaporkan bahwa ketertarikan siswa
Korea terhadap matematika sangat lemah. 62 persen siswa-siswa Korea berpikir
bahwa mereka tidak memiliki kemampuan matematika yang baik. Dan ketakutan siswa
Korea terhadap matematika sangat tinggi. Menariknya, PISA (2003) menunjukkan
hasil bahwa keyakinan diri terhadap matematika tidak berhubungan dengan nilai
yang tinggi.
Sekolah-sekolah
di Korea menggunakan kurikulum nasional. Kurikulum matematika ini disusun oleh
sebuah komite yang terdiri dari kepala sekolah, guru matematika, peneliti dari
institusi pendidikan yang dibawahi oleh Kementerian Pendidikan dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia. Kurikulum matematika di Korea, yang merupakan kurikulum
nasional ke 7 direvisi pada tahun 1998 (Lew,2004) dan dipakai sejak tahun 2000
(Paik,2004). Fokus dari kurikulum yang
ke 7 ini adalah “learner centered”
atau berpusat pada siswa. Pendekatan ini bertujuan untuk menguatkan kerelaan
siswa, aktivitas belajar yang baik, dan mempengaruhi siswa agar tertarik pada
matematika.
Di
Amerika Serikat, Dewan Nasional Pengajar Matematika menerbitkan buku kurikulum
dan standar evaluasi untuk matematika di sekolah (1989). Dan dilanjutkan dengan menerbitkan buku
prinsip-prinsip dan standar matematika di sekolah (2000). Dewan Nasional
Pengajar Matematika menggunakan dasar teori konstruktivisme, yang juga didukung
oleh ahli teori kognitiv seperti Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Jerome Bruner.
Mereka menganjurkan bahwa anak-anak harus membangun pengetahuan mereka
berdasarkan interaksi anak dengan lingkungan fisik dan sosial (De Vries &
Kohlberg, 1987, Heddens & Speer,2006).
Sejarah
kurikulum di Korea dipengaruhi oleh gerakan reformasi di Amerika Serikat. Ini
menunjukkan bahwa sejarah matematika di Korea sangat mirip dengan sejarah
matematika dan pergerakan reformasi di Amerika Serikat. Hal ini menujukkan
bahwa pengajar di Korea dan Guru Matematika harus sadar tentang gerakan
reformasi dalam konteks internasional. Persepsi guru secara langsung
berhubungan dengan pendidikan matematika karena peranan guru adalah sebagai
bagian dari kurikulum. Sejauh ini, beberapa laporan menunjukkan bahwa keyakinan
guru dan metode instruksional adalah hal yang sangat mempengaruhi pencapaian
hasil belajar siswa. Artikel ini menyelidiki persepsi guru kelas di Korea
tentang pendidikan matematika dan faktor yang mempengaruhi siswa di Korea
memperoleh nilai matematika yang tinggi.
Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk menyelidiki persepsi guru kelas di Korea tentang pendidikan
matematika. 1) Apa persepsi guru mengenai pendidikan matematika di Korea? 2)
Menurut guru di Korea Faktor-faktor apa saja yang berkontribusi dalam
pencapaian nilai matematika yang tinggi dalam studi perbandingan internasional?
Metode
Partisipan
Guru-guru
kelas secara acak dipilih dari Sekolah Dasar yang berlokasi di provinsi
Chullabuk-do, di barat daya Korea. Guru yang berpartisipasi adalah guru dari
kelas 1 sampai guru kelas 6 dari 21 Sekolah Dasar. Dari 200 guru yang dipilih,
sebanyak 141 guru kelas (101 guru perempuan, 40 guru laki-laki) telah mengisi
dan mengembalikan angket. Dari 141 guru tersebut, sebanyak 19 orang adalah guru
kelas 1 (13.5%), 22 orang guru kelas 2 (15.6%), 21 orang guru kelas 3 (14.9%) ,
18 orang guru kelas 4 (12.8%) , 31 orang guru kelas 5 (22%), dan 30 orang guru
kelas 6 (21.3%). Rata-rata pengalaman mengajar mereka adalah 13.38 tahun. Dan
rata-rata siswa yang diajar dalam satu kelas adalah 33.45 siswa. Usia rata-rata
mereka adalah 36.66 tahun. 112 guru (79.4%) adalah lulusan sarjana, 23 guru
(16.3%) adalah lulusan magister, dan 6 guru (4.3%) sedang menempuh studi
magister.
Instrumen
Instrumen
terdiri dari 26 item, yang terbagi dalam 3 bagian penelitian. Bagian pertama
berisi pertanyaan tentang informasi pribadi partisipan seperti jenis kelamin,
umur, pengalaman mengajar, kelas mengajar, dan jumlah murid yang diajar dalam
satu kelas. Bagian kedua berisi 10 pertanyaan dengan 3 skala jawaban (setuju,
tidak yakin, dan tidak setuju) tentang instruksi pedagogik di pendidikan
matematika. Contohnya, guru ditanya apakah kemampuan aplikasi kehidupan nyata
adalah bagian yang terpenting bagi siswa untuk belajar matematika di kelas.
Bagian ketiga adalah berisi 2 pertanyaan open-ended
dan pertanyaan dengan jawaban iya atau tidak.
Angket
penelitian disebarkan mulai dari akhir Mei hingga akhir Juni 2005. Dan angket
di kumpulkan melalui kepala sekolah selama bulan Juli sampai November 2005.
Data dimasukkan dan dianalisis menggunakan SPSS 14.0. Analisis deskriptiv dan
tabulasi silang digunakan untuk memeriksa tujuan dari penelitian ini.
Hasil
Keyakinan
guru tentang pendidikan pedagogik
Berikut adalah
hasil jawaban guru dari 10 pertanyaan yang diberikan, dengan tiga skala jawaban
(setuju, tidak yakin, dan tidak setuju).
1. Aplikasi
kehidupan sehari-hari adalah yang paling penting dalam pendidikan matematika.
: 123 guru
(87.2%) setuju bahwa mengajar siswa untuk menerapkan pendidikan matematika dan
kemampuan dalam kehidupan nyata adalah kemampuan yang sangat penting. Sedangkan
9 guru (6.4%) mengatakan mereka tidak yakin atau tidak setuju dengan pernyataan
ini.
2. Proses
adalah hal yang sangat penting dalam mengajar matematika
: 130 (92.2%)
guru setuju dengan pernyataan “mengajar siswa untuk melihat proses ketika
menyelesaikan masalah adalah yang terpenting”. 5 guru (3.5%) tidak yakin, dan 6
guru (4.2%) tidak setuju.
3. Mengingat
algoritma untuk menyelesaikan masalah matematika adalah hal yang penting.
:
Pernyataan berikutnya yaitu, “hal yang terpenting bagi siswa adalah mengingat
algoritma dan menggunakan nya untuk menyelesaikan masalah matematika”. Sebanyak
95 guru (67.4%) tidak setuju dengan pernyataan ini, 28 guru (19.9%) tidak
yakin, dan 18 guru (12.8%) menjawab setuju.
4. Untuk
mengajarkan matematika, kita perlu menjelaskan konsep menggunakan hal konkrit.
: Saat guru-guru
ditanya mengenai pendapat mereka tentang apakah manipulasi ke hal konkrit harus
dilakukan untuk mengilustrasikan konsep matematika kepada siswa, sebanyak 118
guru (83.7%) menjawab setuju, 22 guru (15.6%) menjawab tidak yakin dan 1 guru
(0.7%) menjawab tidak setuju
5. Saya
merasa percaya diri menjelaskan konsep matematika kepada siswa dengan
menggunakan instruksi manipulatif.
:
66 guru (46.8%) merasa percaya diri menjelaskan konsep matematika kepada siswa
menggunakan berbagai instruksi manipulatif. 61 guru (43.3%) merasa tidak yakin,
13 guru (9.2%) merasa tidak percaya diri, dan 1 orang guru (0.7%) memutuskan
untuk tidak mnejawab.
6. Saya
perlu membantu siswa untuk memahami pengetahuan abstrak dari contoh konkrit
melalui penjelasan dengan menggunakan model konkrit.
:
Sebanyak 125 guru (88.7%) setuju bahwa contoh konkrit harus dicontohkan
terlebih dahulu dan kemudian informasi yang berkaitan dengan hal abstrak
membantu siswa untuk memahami konsep. 13 guru (9.2%) tidak setuju, 2 guru
(1.4%) tidak setuju, dan 1 guru (0.7%) tidak menjawab.
7.
Ketika memperkenalkan konsep
baru dengan menggunakan objek konkret.
:
Menggunakan objek konkret untuk memperkenalkan konsep baru,terdapat 112 guru (79.4%)
mengatakan bahwa materi pengajaran konkret harus selalu digunakan ketika siswa
belajar konsep baru. 21 guru (14,9%) tidak yakin dan 8 guru (5,7%) tidak
berpikir hal tersebut. Cara yang tepat untuk membantu siswa membangun konsep.
8.
Pengetahuan konsep dan prosedur
sangat penting dalam pembelajaran matematika : :
Terdapat 132 guru (93.6%) berfikir bahwa
pengetahuan konsep dan prosedur sama-sama penting dalam mengajar
matematika. Hanya 9 guru (6.4%) yang
tidak menjawab.
9.
Dalam pembelajaran matematika,
pengetahuan prosedur sangat penting.
:
Guru juga diminta pendapat bahwa pengetahuan algoritma sangat penting dalam
pendidikan matematika. 55 guru (39%) setuju, 39 guru (27,7%) tidak yakin, dan 26
guru (18.4%) tidak setuju dengan gagasan.
21 guru (14,9%) tidak menjawab pertanyaan.
10. Guru merasa siswa belajar matematika dengan
baik melalui metode yang diajarkan
:
Terdapat 89 guru (63.1%) merasa bahwa siswa belajar matematika dengan baik
melalui metode pengajaran yang mereka gunakan. 45 guru (31.9%) tidak tahu jika
metode pengajaran yang mereka gunakan efektif dan 7 guru (5,0%) menjawab mereka
tidak merasa bahwa metode pengajaran yang membantu murid dalam belajar
matematika.
Pedagogik
Pendidikan Guru
Guru menjawab
pertanyaan tentang hal terpenting yang mereka butuhkan untuk mengajar
matematika, 61 respon (26.6%) dari total tanggapan (229) mengindikasikan bahwa
konsep merupakan yang paling penting bagi para siswa untuk memperoleh
pengetahuan. 59 tanggapan (25.8%) menunjukkan bahwa pemahaman prinsip-prinsip
yang paling penting, dan 20 respon (8.7%) menunjukkan bahwa proses pemahaman paling
penting. 18 respon (7,9%) menjawab bahwa
membantu siswa bersenang-senang dengan matematika untuk meningkatkan minat belajar,
dan 17 respon (7,4%) mengatakan bahwa siswa harus mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah. 16 guru (6.9%)
mengatakan bahwa siswa harus membangun keterampilan berfikir dan 15 guru (6.6%) mengatakan bahwa kehidupan nyata, aplikasi
sangat penting dalam pendidikan matematika.
Tanggapan (antara 0.4 - 3,9%) termasuk keterampilan dasar komputasi siswa,
menggunakan manipusi konkret dalam pengajaran matematika, memungkinkan siswa
termotivasi untuk menjadi diri sendiri, membantu siswa membangun algoritma
sendiri, investasi kemampuan, keterampilan belajar dan menghafal fakta-fakta
penting (Lihat tabel 1).
Tabel
1. Apa hal paling penting yang Anda
butuhkan untuk mengajar matematika di kelas dasar ?
Skor tinggi yang diperoleh siswa dalam
pelajaran matematika di korea dalam studi perbandingan internasional di bidang
matematika, mayoritas 141 guru (93.6%) menunjukkan mereka mengetahui . Tujuh guru (5,0%) tidak yakin dan dua guru
(1,4%) tidak menanggapi pertanyaan. Pertanyaan terakhir dikaji guru tentang mengapa
siswa korea memperoleh peringkat tinggi dalam studi perbandingan internasional
di bidang matematika. 43 tanggapan dari
guru (22,1%) menunjukkan bahwa siswa korea berlatih keterampilan melalui pemecahan
berbagai masalah dalam matematika. 27
tanggapan dari guru (13,8%) mengatakan bahwa skor tinggi yang diperoleh siswa
karena belajar mandiri setelah program
sekolah dan bimbingan dalam matematika. terdapat
24 tanggapan guru (12.3%) menyatakan bahwa orangtua siswa mengharapkan usaha yang
dimiliki siswa untuk mendapatkan peringkat yang lebih tinggi dalam matematika. 14 tanggapan (7,2%) menyatakan bahwa siswa
berpikir dan focus dalam matematika sangat penting bagi keberhasilan mereka di
sekolah. 12 tanggapan guru (6.2%) menunjukkan bahwa prestasi yang
diperoleh siswa karena keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak di
korea. 10 tanggapan (5.1%) menyatakan
bahwa siswa yang memiliki skor tertinggi yaitu siswa yang memiliki semangat
dalam ujian masuk perguruan tinggi.
Tabel
2. Menurut Anda, mengapa siswa korea
mencapai nilai yang tinggi dalam studi banding penilaian internasional
matematika?
Diskusi
dan Kesimpulan
Temuan-temuan dari studi ini menunjukkan
bahwa guru SD di Korea berdasarkan konstruktivisme, mereka mengusulkan
anak-anak membangun pengetahuan mereka sendiri.
Sebagian besar guru (87,5%) berpikir bahwa aplikasi nyata dan memahami
proses pemecahan masalah yang membantu siswa dalam belajar. mereka juga mengakui bahwa pengetahuan
konseptual sangat penting dalam pendidikan matematika. Di kelas konstruktivisme siswa belajar
melalui tindakan, kegiatan berorientasi, penemuan, pertanyaan dan diskusi
(DeVries & Kohlberg, 1987).
Terdapat 3 spekulasi guru mengenai
faktor yang berkontribusi terhadap pencapaian skor tinggi yang diperoleh siswa dalam
studi perbandingan internasional, adalah: (1) pendidikan matematika korea masih
fokus pada praktek . (2) belajar mandiri setelah sekolah(3) harapan orang tua
yang tinggi dalam pendidikan anak-anak mereka.
Studi yang dilakukan oleh Shuhua (2000)
dilaporkan bahwa guru pedagogik keyakinan tentang peran matematika sangat
penting dalam membentuk instruksional praktek mereka. Pendekatan tradisionalis didasarkan pada teori
perilaku, dimana kelas didominasi oleh guru berbicara (Goodlad, 1984) dan guru
sangat bergantung pada buku, latihan, dan worksheets (Ben-Peretz, 1990).
Hasil studi ini diproyeksikan beberapa
faktor umum yang dibahas dalam laporan yang dilakukan oleh Park (2004). Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap
prestasi tinggi dalam matematika siswa di korea yaitu: 1) ujian seleksi
perguruan tinggi; 2) sistem nomor Korea; 3) sikap siswa menghadapi tes; 4)
pragmatisme dan belajar berulang-ulang; 5) kemampuan guru matematika; dan 6)
siklus kemampuan. Laporan lain yang
dilakukan oleh Fuchs dan Wobmann (2004) dalam memeriksa data PISA menyimpulkan
bahwa karakteristik siswa, latar belakang keluarga, rumah, sumber daya, guru,
dan lembaga-lembaga semua berkontribusi secara signifikan terhadap perbedaan dalam
pencapaian pendidikan siswa. Isu-isu
yang dilaporkan oleh laporan-laporan ini berbagi baseline sama dan terjalin
antara faktor yang berkontribusi terhadap pendidikan matematika, Penelitian ini
berusaha untuk menyelidiki faktor bahwa siswa korea memperoleh nilai tinggi
dalam pendidikan matematika, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa itu akan
sangat sulit untuk menemukan faktor tunggal atau khas karena semua faktor
berkontribusi dalam cara interaktif satu dengan yang lain.
"...dalam memeriksa data PISA menyimpulkan bahwa karakteristik siswa, latar belakang keluarga, rumah, sumber daya, guru, dan lembaga-lembaga semua berkontribusi secara signifikan terhadap perbedaan dalam pencapaian pendidikan siswa"
BalasHapusdi sana ada kata "rumah", bisa dijelaskan?
menurut saya mungkin kata rumah di dalam artikel tersebut kembali kepada lingkungan tempat tinggal.. lingkungan rumah tersebut berada,
Hapusterima kasih
arti rumah disini ya rumah tempat siswa itu tinggal bagaimana karakter siswa dari mana siswa itu berasal SDM nya.,
Hapusbagaimana menurut mbak okta saat kita mulai memanamkan konsep baru kepada siswa, di jelaskan di atas bahwa kita sebaiknya menggunakan hal konkret. apakah harus benda nyata yang akan kita tunjukkan kepada siswa?
BalasHapusIzin menanggapi. Menurut saya hal2 yg konkret disini tdk hny dlm artian benda nyata kita bwakan lngsung kehadapan siswa. Fakta2 yg nyata dan pngalaman siswa pun sdh dianggap konkret asalkan siswa memahami fakta nyata dan pngalaman nya dgn baik. Seperti contoh saat menanam konsep perbandingan senilai kita ambil contoh ayam dan telurnya. Kita tdk prlu mmbawa ayam dan telur. Ckup memberi tahu kepada siswa atau beri ilustrasinya. Krna hubungan ayam dan telur umumnya sdh siswa pahami dan merupakan fakta nyata. Terima kasih
Hapusapakah metode atau media yang mempengaruhi skor nilai matematika siswa SD di korea tinggi? atau ada faktor lain yang mempengaruhinya......
BalasHapusFaktor-faktor yang berkontribusi terhadap prestasi tinggi dalam matematika siswa di korea yaitu: 1) ujian seleksi perguruan tinggi; 2) sistem nomor Korea; 3) sikap siswa menghadapi tes; 4) pragmatisme dan belajar berulang-ulang; 5) kemampuan guru matematika; dan 6) siklus kemampuan.
BalasHapusBisakah anda jelaskan maksud sistem nomor pada poin 2 ?
Kalau mnurut sya sistem penomoran itu adalah semacam kalau dijepang itu ada yg namanya huruf kanji..jd mungkin klo di indonesia angka lima di tuliskan dgn 5 mungkin klo di jepang berbeda penulisannya
HapusUntuk meningkatkan kesuksesan matematika pada siswa di korea dengan teknik belajar praktek, menurut octa bisakah hal tersebut kita terapkan di indonesia?
BalasHapusmenanggapi, menurut saya bisa diterapkan di Indonesia, sehingga Indonesia bisa mengikuti kesuksesan pelajaran matematika yang ada dikorea.
HapusUntuk meningkatkan kesuksesan matematika pada siswa di korea dengan teknik belajar praktek, menurut octa bisakah hal tersebut kita terapkan di indonesia?
BalasHapusassalamualaikum..
BalasHapusmb okta...
saya mau tanya nih..
bagaimana pendapat mb octa..
kalau di korea guru-guru menilai siswa dengan angka atau peringkat..
sementara nih.. kita sekarang berusaha untuk menilai siswa bukan dari nilai, angka dan sebagainya.. kita lebih menilai kepada sikap ??
bagaimana sikap kita sebaiknya terhadap 2 statment tersebut ?//
terima kasih
di korea sistem kurikulum matematikanya apakah ada matematika wajib dan peminatan juga seperti di Indonesia?
BalasHapus